CEL.XXIII.02.439

Nothing’s impossible, Impossible’s nothing

Archive for the ‘Tehnik Penelusuran Gua’ Category

Teknik Penelusuran Gua Horisontal

Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

I. PENELUSURAN GUA HORISONTAL

Medan pada gua horisontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah di telusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya. a. Lumpur.

Lorong yang berlumpur dapat dengan mudah kalau lumpur tersebut tidak terlalu tebal. Tapi dalam kondisi lumpur setinggi lutut bahkan sampai setinggi perut, kita tidak mudah untuk melaluinya.

Untuk melewatinya kita bergerak dengan posisi seperti berenang. Dengan posisi seperti ini akan lebih mudah bergerak dan menghemat tenaga.

b. Air.

Untuk kondisi lorong gua yang berair. terutama gua yang belum pernah di masuki kita tidak mengetahui kedalaman air dan kondisi di bawah permukaan air, untuk itu kita harus mengetahui prosedur dan mempunyai fasilitas pendukung.

Syarat utama untuk melewati lorong yang berair adalah harus bisa berenang. Tetapi dengan kondisi lorong yang serba terbatas, teknik berenang dalam gua berbeda dengan berenang di kolam renang. Di sini kita memakai pakaian lengkap, sepatu bahkan mungkin membawa beban yang cukup berat.

Pembagian team juga harus di sesuaikan, untuk leader ia tidak boleh membawa beban berat, karena leader harus membuat lintasan dan mempelajari kondisi medan.

Dalam kondisi tertentu kita menggunakan pelampung, perahu karet terutama untuk lorong yang panjang dan berair dalam.

Ada juga lorong yang hampir semua di penuhi oleh air hanya ada ruangan sedikit yang tersisa. Untuk melewatinya kita harus melakukan DUCKING ( kepala menengadah). Kadang-kadang kita harus melepas helm untuk menambah ruang gerak kepala. Dalam kondisi tertentu kita melakukan ducking dengan jongkok, bahkan dengan berbaring kalau badan tidak dapat masuk seluruhnya.

Diving, adalah teknik penyelaman dengan alat bantu pernafasan dan pakaian khusus. Teknik ini di lakukan pada lorong yang seluruh bagiannya tertutup oleh air (sump, siphon). Untuk perbandingan resiko kematian di cave diving adalah 60% tewas. Sedang resiko caving 15 %. Dengan melihat perbandingan resiko kematian yang besar ini kita di tuntut untuk ekstra hati-hati, seyogyanya tidak meneruskan penelusuran jika tanpa alat pendukung yang standart.

c. Climbing.

Dalam suatu penelusuran gua terkadang kita menjumpai adanya water fall ataupun lorong yang terletak di atas kita. Untuk dapat meneruskan penelusuran kita harus menggunakan teknik-teknik Rock Climbing. Seperti memasang pengaman sisip dan bor tebing untuk pembuatan lintasan, yang melakukan adalah leader dan kemudian anggota yang lain melewatinya dengan SRT. Teknik rock climbing harus bisa di lakukan pada kondisi medan seperti :

* Aliran air yang deras dan kita tidak mengetahui kedalamannya.
* Gua yang berbentuk celah dan menyempit bagian dasarnya
* Sungai besar atau danau yang dalam.
* Pemasangan rigging pada waterfall.
* Menghindari calcite floor atau oolith floor.

Advertisements

Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | Leave a Comment »

Perlengkapan Personal Untuk Caving (Personal Equipment)

Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

Persiapan untuk memasuki gua dibutuhkan perlengkapan yang lengkap, disamping peralatan yang dibutuhkan oleh Team, berikut adalah peralatan yang sebaiknya dipersiapkan untuk personal (perorangan), meliputi sepatu, cover all, hand glove, helm, boom dan lainnya, secara rinci disampaikan sebagai berikut dengan spesifikasinya (persyaratan standart dan kondisi).

1. Sepatu.
* Dipilih yang kuat,
* Tahan terhadap lumpur yang liat,
* Sol yang kasar sehingga tidak licin oleh lumpur maupun dinding dan lantai gua yang basah.
2. Coverall (overall)
* Pakaian khusus yang dapat menahan tajamnya medan dalam gua, yang dapat segera kering apabila basah,
* Yang dapat melindungi seluruh tubuh dari tumbuhan gatal sekitar mulut gua,
* Memiliki kantung yang cukup untuk perbekalan dan perlengkapan personal.
3. Hand glove.
* Yang dapat menahan dingin,
* Menyimpan kalor,
* Menahan tajamnya batuan dalam gua.
4. Helm.
* Yang memiliki lapisan kevlar sehingga tidak mudah pecah. Sehingga betul-betul dapat melindungi kepala dari benturan dan runtuhan.
* Memiliki lilitan terhadap kepala yang nyaman sehingga tidak mengganggun saat kegiatan berlangsung dan tidak melelahkan kepala dan leher
* Peredaran darah disekitar kepala lancar.
5. Boom.
* Pilih yang tidak mudah macet,
* aliran air kedalam tabung karbit lancar,
* Tahan benturan.
6. Survival bag
Berisi:
* lilin,
* korek api,
* karbit cadangan,
* batery cadangan,
* bola lampu cadangan,
* coklat batangan dan permen.
7. Senter.
* Pilih yang tidak mudah korseleting karena air,
* Jangan dikalungkan pada leher, karena dapat terbelit saat descending atau ascending.
* Bawa cadangan batery dan bola lampu, dihitung tidak termasuk pada cadangan yang ada di survival bag.
8. SRT-set.
SRT-set merupakan alat personal yang selama penelusuran hanya dikenakan oleh seorang saja, tidak boleh bertukar. Panjangnya footloop dan cowstail sebenarnya disesuaikan dengan panjang lengan dan panjang kaki tiap pemakainya.

Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | Leave a Comment »

Vertical Caving, Simpul dan Tambatan

Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

Di dalam vertical caving, dikenal simpul untuk sambungan antar tali (knot) dan tambatan (attachment). Dibawah ini adalah beberapa simpul dan tambatan yang direkomendasikan dan yang tidak, untuk dipergunakan:


Simpul Yang Direkomendasikan
beberapa simpul yang direkomendasikan untuk dipergunakan, sekaligus kekuatan yang tersisa akibat adanya simpul, penggunaan.
Simpul Yang Tidak Direkomendasikan
Beberapa simpul yang tidak direkomendasikan untuk dipergunakan, sekaligus kekuatan yang tersisa akibat adanya simpul, penggunaan.
Friction hitches
Simpul-simpul yang dipergunakan untuk ascending menggunakan friksi antar tali sebagai daya cengkeramnya. Lebih sering dikenal dengan prusiking.
Simpul dengan loop tunggal
Simpul-simpul yang memiliki satu buah loop. Biasanya dipergunakan untuk tambatan tunggal.
Simpul loop ganda
Simpul-simpul yang memiliki dua buah loop, biasanya dipergunakan untuk Y-anchor.
Pengurangan Kekuatan Tali
Simpul yang dibuat, ternyata dapat mengurangi kekuatan tali saat tali tersebut dipergunakan.

Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | Leave a Comment »

Vertical Caving, Tali (Static Rope)

Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

Tali yang dipergunakan untuk vertical caving adalah jenis static rope. Yaitu jenis tali yang memiliki angka kemuluran (elongasi) yang rendah.

Static Rope

PERINGATAN- Tipe tali yang dipergunakan untuk SRT tidak didesain untuk mengakomodasi gaya yang dihasilkan oleh jatuhan yang parah, dan TIDAK BOLEH dipergunakan untuk rock climbing. Tali SRT, dibandingkan tali pemanjatan memiliki regangan yang kecil dan memiliki ketahanan abrasi yang lebih besar. Hal ini berhubungan dengan apa yang disebut dengan elongasi. Apa itu elongasi?

Sedangkan syarat kekuatan tali yang dipergunakan untuk vertical caving, minimal adalah= 20x(diameter)2.
Jadi untuk tali berukuran 10 mm, harus memiliki kekuatan minimal:

= 20x(diameter)2
= 20x(10)2
= 2.000 kg

Detail tali kernmantel adalah sebagai berikut:

Struktur Tali

Berikut ini adalah beberapa produsen tali yang menyediakan tali statik:

  1. Blue water
  2. Mammut
  3. Beal
  4. PMI
  5. Edelrid

Elongasi Tali

Apakah istilah “elongasi” untuk tali pemanjatan membuat anda bingung? Ya, anda tidak sendiri dan mungkin ada yang lebih buruk. Edisi revisi UIAA 101 yang akan datang – Mountaineering and Climbing Equipment – Tali dinamik (Dynamic Ropes) mungkin tidak lagi diukur elongasi secara statis, melainkan secara dinamis.

Standar yang sekarang: tali diberi beban (tanpa hentakan) dengan berat 80-kg selama 3 menit. Kemudian, beban dihilangkan dan tali dibiarkan kembali selama 10 menit. Berikutnya, tali dibebani (tanpa hentakan) dengan beban referensi 5 kg tiap 1 menit. Pada saat ini, tali diberi 2 tanda ditempatkan dengan jarak 1 meter. Akhirnya, tali diberi lagi beban (tanpa hentakan) sebesar 80-kg selama satu menit dan jarak “baru” antar tanda tersebut diukur.

Prosentase perbedaan antar dua tanda dihitung untuk menentukan “elongasi statis” tali. Tali tunggal tidak akan lebih 8% (untaian tunggal), tali setengah tidak akan lebih dari 10% (untaian tunggal) dan tali kembar tidak akan lebih dari 8% (untaian ganda).

Jika hal ini diaplikasikan terhadap situasi pemanjatan, sebagai contoh: pemanjat dengan pitch yang sedikit dan membeli tali dengan elongasi statis 7,5%. Kemudian mereka pergi ke daerah top-rope, dengan ketinggian 55 kaki dari tanah ke anchor dan membelay dari dasar tebing. Saat seseorang memanjat 10 kaki, ada sekitar 100 kaki tali yang terpakai. Pemanjat kemudian capek dan membebani tali. Karena tali memiliki elongasi 7,5% dan ada 100 kaki tali yang terpakai, pemanjat turun 7,5 kaki dan hampir menyentuh tanah. Namun jika pemanjat jatuh 10 kaki apa yang akan terjadi? Tali akan terbeban secara dinamis. Karena elongasi dinamis dapat mencapai 40% tergantung pada jarak jatuh dan beban pemanjat, maka pemanjat kemungkinan besar akan menghantam tanah dari ketinggian 10 kaki. UIAA mengambil langkah untuk membahas hal ini di versi UIAA 101 yang akan datang.

Standard UIAA yang baru, yang mana masih dalam proposal dan berupa tingkat pengujian, kemungkinan besar akan mengukur elongasi dinamik pada jatuhan pertama pada pengujian jatuhan. Pengujian ini akan menunjukkan elongasi dinamik pada tali tunggal dengan beban 80-kg dijatuhkan kira-kira dengan fall factor 1,7. Standar UIAA yang direvisi mengharap bahwa elongasi dinamik yang diwajibkan adalah kurang dari 40%. Hal ini membuat pegawai toko dan pemanjat untuk menggunakan elongasi dinamik yang dipublikasikan sebagaimana penggunaannya ke situasi pemanjatan nyata. Pada bulan Desember tahun 2000, dua tali Sterling diuji di APAVE Lyon, Perancis untuk sertifikasi UIAA dan CE tahunan. Tali dinamik 10,2 mm dan 9,5mm keduanya mendapatkan persetujuan EN 892:1997 dan UIAA 101. Pengujian juga melaporkan elongasi dinamik pada tiga jatuhan pertama sebagai berikut:

elongasi dinamis 10.2mm

jatuhan 1 = 30.2% (<40%) –> Memenuhi syarat
jatuhan 2 = 30.0% (<40%) –> Memenuhi syarat
jatuhan 3 = 30.2% (<40%) –> Memenuhi syarat
elongasi dinamis 9,5mm
jatuhan 1 = 30.+% (<40%) –> Memenuhi syarat
jatuhan 2 = 31% (<40%) –> Memenuhi syarat
jatuhan 3 = 30.4% (<40%) –> Memenuhi syarat
(Referensi: http://www.sterlingrope.com/2000/newsletter/news_elongation.htm)

Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | 1 Comment »

Vertical Caving, Organisasi Rigging

Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

Organisasi Rigging, Yang dimaksud dengan organisasi rigging adalah manajemen dan pembagian kerja saat pembuatan lintasan. Persiapan dan pengaturan yang dilakukan meliputi banyak hal :

I. Peralatan

Hal ini dilakukan sebelum mulai penelusuran, meliputi :

1. Penentuan dan penghitungan jumlah alat yang akan dibawa. Hal ini dibedakan atas :

Penelusuran gua baru.
Jumlah peralatan yang dibawa berdasarkan target waktu penelusuran yang akan dilakukan, ataupun perkiraan kedalaman gua yang akan ditelusuri. Perkiraan kedalaman dan panjangnya dapat diperkirakan dengan analisis geologi dan peta topografi, serta dibandingkan dengan gua-gua sekitarnya (jika pernah ditelusuri).

Penelusuran gua yang pernah ditelusuri sebelumnya.
Jumlah perlatan bisa dihitung dari jumlah pitch dan panjang tiap pitch yang telah diketahui sebelumnya karena penah menelusuri atau dengan membaca peta gua.

2. Packaging peralatan
Peralatan yang dibawa dibagi menjadi beberapa kelompok berdasar efisiensi penggunaan dan pantangan, dengan menggunakan tackle bag tersendiri:

Tali

  • Tali dimasukkan kedalam tas khusus(sendiri), jangan dicampur dengan barang-barang lain terutama bahan kimia (karbit, dye tracing, batery, dll) dan makanan.
  • Gulung tali kedalam tas dengan ujung yang pertama kali masuk dibuat simpul 8 tunggal dan simpul 8 double pada paling ujung. Berfungsi untuk menyambung tail bila ternyata tali sudah habis sebelum mencapai dasar pitch. Dan yang terpenting mencegah rigging man “terjun bebas”.
  • Ingat!!! Seorang vertical caver berpengalaman pernah mengalami hal ini dan harus ditebus dengan nyawanya!!

  • Jika menelusuri gua yang pernah ditelusuri dan diketahui kedalaman masing-masign pitch, masukkan tali sesuai dengan urutan panjang tali yang dimiliki. (Jika panjang tali yang dimiliki tidak seragam).
  • Tiap ujung tali diberi label panjang tali sehingga memudahkan untuk manajemen tali yang berhubungan dengan kedalaman pitch. (Lihat Gambar)
  • Label tali

    Masing-masing ujung tali diberi kode panjang tali .

    Perlatan dari logam
    Perlatan ini berupa carabiner, pengaman sisip, bor tebing, hammer dan lain sebagainya. Masukkan peralatan ini dalam tas tersendiri. Jika terlalu berat dapat dipisahkan menjadi beberapa tas. Untuk gua yang pernah ditelusuri, pemisahan lebih baik tidak berdasar pada jenisnya, misalkan carabiner dimasukkan ke dalam satu tas, pengaman sisip di tas yang lain, namun berdasar kebutuhan tiap pitch.
    Peralatan dari kain.
    Perlatan yang dimaksud adalah webbing, sling, ataupun tali potongan pendek yang dipergunakan untuk rigging. Sebagaimana dengan tali, peralatan ini sensitif terhadap bahan kimia.

    II. Pembagian tim

    Tim rigging yang baik minimal 2 orang. dengan pembagian tugas sebagai berikut.

    a. Pemasang lintasan.

    Bertugas memasang lintasan dan leader. Sebagai pemasang lintasan dia bertanggung jawab atas keselamatan penelusur lainnya saat melewati lintasan yang dibuat, jadi lintasan ini harus benar-benar aman untuk penelusur lainnya. Sehingga ada kesepakatan bahwa pembuat lintasan harus yang pertamakali turun pada lintasan tersebut.

    b. Pembantu.(assisten rigging)

    Orang ini berugas untuk menyiapkan dan memberikan alat yang dibutuhkan oleh pembuat lintasan, juga sebagai belayer saat orang pembuat lintasan harus melakukan traversing ataupun pemanjatan pada saat memasang lintasan. (Widjanarko, Sunu.2008.Vertical Caving, Organisasi Rigging.http://subterra.web.id)

     

    Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | Leave a Comment »

    Vertical Caving, Simpul Yang Direkomendasikan

    Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

    Pada aktifitas penelusuran gua (caving) terdapat banyak simpul yang dipergunakan, berikut dengan fungsi kegunaannya, berikut kami sajikan beberapa jenis simpul yang di rekomendasikan dipergunakan dalam kegiatan sesuai dengan standart keamana.


    SIMPUL BENTUK KEKUATAN STATIS*
    % dari aslinya
    FALL PENGGUNAAN
    FIGURE-9  70 10 Umum, tali yang kecil
    FIGURE-9 abnormal  55 8 Rebelay failure
    FIGURE-8 LOOP  55 8 Umum
    FIGURE-8 LOOP (abnormal)  40 5 rebelay failure
    DOUBLE FIGURE-8 LOOP  10 rebelay, Y belay
    DOUBLE FISHERMAN  55 10 Sambungan tali
    FIGURE 8 SAMBUNGAN  50 Sambungan tali
    OVERHAND  50 5 Simpul pita, simpul stopper
    PITA  45 Simpul pita

    * Menurut Marbach

    (Widjanarko. Sunu.2008.Vertical Caving, Simpul yang Direkomendasikan.http://subterra.web.id)

    Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | Leave a Comment »

    Vertikal Caving

    Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

    Banyak hal yang harus dipelajari ketika kita memutuskan untuk mulai menelusuri gua vertikal.

    1. Peralatan Personal Untuk Vertical Caving
    2. Peralatan Rigging (pemasangan lintasan)
    3. Teknik Pemasangan Lintasan
    4. Teknik meniti tali tunggal (Single Rope Technique), naik (ascending) dan turun (descending)

    (Widjanarko, Sunu.2008.Vertical Caving.http://subterra.web.id)

    Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | Leave a Comment »

    Vertical Caving, Single Rope Technique

    Posted by Ardy Prasetyo on March 28, 2008

    Single Rope Technique (SRT) adalah teknik yang dipergunakan untuk untuk menelusuri gua-gua vertikal dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan-medan vertikal. Berbagai sistem telah berkembang sesuai dengan kondisi medan di tempat lahirnya masing-masing metode. Namun yang paling banyak dipergunakan adalah Frog Rig System.Teknik yang lain adalah: rope walker, Texas Rig, jumaring, Mitchele System, floating cam system.

    Sistem frog rig menggunakan alat:

    1. Seat harness, dipergunakan untuk mengikat tubuh dan alat-alat lain. Dipasang di pinggang dan pangkal paha. Jenis-jenisnya adalah: bucklet, avantee, croll, rapid, dan fractio.
    2. Chest ascender, dipergunakan untuk memanjat (menaiki) lintasan atau tali dipasang di dada. Dihubungkan ke Delta MR oleh Oval MR.
    3. Hand ascender, dipergunakan untuk memanjat (menaiki) lintasan atau tali di tangan. Di bagian bawah dipasang descender, tempat digantungkannya foot loop dan cows tail.
    4. Descender, dipergunakan untuk menuruni tali. Ada beberapa jenis descender: Capstand (ada dua macam: simple stop dan auto stop), whaletale, raple rack (ada dua macam: close rack dan open rack), figure of eight, dan beberapa jenis lagi yang prinsip kerjanya sama dengan figure of eight.
    5. Mailon rapid,ada dua macam Mailon Rapid (MR), yaitu: Oval MR untuk mengaitkan Chest Ascender kepada Delta MR. Delta MR sendiri adalah untuk mengkaitkan dua loop seat harness dan tempat mengkaitkan alat lain seperti descender berikut karabiner friksinya dan cowstail.
    6. Foot loop , dicantolkan ke karabiner yang terhubung ke hand ascender. Berfungsi sebagai pijakan kaki. Ukuran dari foot loop harus tepat seperti gambar diatas. Hal ini sangat mengurangi kelelahan pada waktu ascending di pitc-pith yang panjang
    7. Cows tail, memiliki dua buat ekor. Satu terkait di hand ascender, dan satu lagi bebas, dipergunakan untuk pengaman saat melewati lintasan-lintasan intermediate, deviasi, melewati sambungan, tyrolean, dan traverse.
    8. Chest harness,untuk melekatkan chest ascender agar lebih merapat ke dada. Sehingga memudahkan gerakan sewaktu ascending normal, atau pada saat melewati sambungan tali. Chest harness lebih baik jika dapat diatur panjang pendeknya (adjustable), sehingga memudahkan pengoperasian, terutama apabila terjadi kasus dimana chest ascender terkunci di sambungan atau simpul, atau pada saat rescue.
    SRT Set
    (Gambar dari katalog Petzl )

    Teknik-teknik yang harus dipelajari untuk SRT adalah ascending dan descending dengan penguasaan melewati jenis-jenis lintasan dan medan.

  • Melewati intermediate anchor
  • Melewati deviation anchor
  • Melewati sambungan tali
  • Melewati lintasan tyrolean, menggunakan satu tali dan dua tali.
  • Meniti tali dengan medan slope (miring)
  •  Ascending2
    Ascending
    ((Gambar dari katalog Petzl)
    Gerakkan telapak kaki untuk menjepit tali dengan telapak kaki. Cara pertama adalah menjepit tali menggunakan bagian dalam pergelangan kaki dengan bagian luar telapak kaki. Cara kedua adalah menjepit tali dengan kedua telapak kaki ketika melakukan gerakan berdiri. Ketika mengangkat kedua kaki, kedua telapak kaki dibuka.

    Descending
    Descending
    (Gambar dari katalog Petzl )


    PERHATIAN:

  • Latihan ini harus dilakukan mengunakan peralatan yang mutu dan kekuatannya memenuhi standar
  • Latihan harus dibawah pengawasan oleh ahli.
  • Berlatihlah pada ketinggian yang tidak terlalu tinggi.
  • Cegahlah latihan yang dapat merusakkan alat: membebani alat melebihi beban normal, beban dengan arah abnormal, menggunakan alat tidak sesuai dengan manual book-nya.
  • Latihan yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat alternatif, harus masih dalam tingkat aman.
  • Pernah melakukan latihan teknik tertentu bukanlah jaminan bahwa kita sudah menguasai teknik tersebut.
  • Berlatihlah satu teknik sampai lancar tanpa hambatan dan kesalahan sebelum berlatih teknik yang lain.
  • Berlatihlah dengan selalu ditemani oleh orang lain yang juga memahami SRT.
  • Berniatlah berlatih untuk menolong orang lain dan diri sendiri.
  • Hindarilah terjadinya kecelakaan di gua untuk orang lain maupun diri sendiri.
  • Saya mempunyai teman yang takut ketinggian, namun akhirnya dapat mengalahkan rasa takut itu, dia sudah berani menuruni medan-medan vertikal dengan kedalaman 50 meter dalam berbagai medan. Namun harus dengan penyesuaian diri yang intensif dan sungguh-sungguh. (Widjanarko, Sunu.2008.Vertical Caving, Single Rope Technique.http://subterra.web.id)
  • Posted in All About Caving, Tehnik Penelusuran Gua | 3 Comments »