CEL.XXIII.02.439

Nothing’s impossible, Impossible’s nothing

Archive for the ‘Introduksi Speleologi’ Category

Proses Terjadinya Speleothem

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

http://www.flickr.com/photos/ptilol4ld/

Speleothem , kata yang berasal dari Yunani yang berarti endapan gua. Kesepakatan dalam klasifikasi speleothem memiliki dua hirarki; form (bentuk) dan style (corak). Form adalah speleothem dengan bentuk dasar yang dapat membedakan berdasar pada perilaku pertumbuhan mineral atau mekanisme dasar deposisinya. Style adalah klasifikasi lanjutan dari form yang menjelaskan bentuk berbeda yang merupakan hasil dari perbedaan tingak aliran, tingkat deposisi, dan faktor lainnya.

Daftar form speleothem menurut kesepakatan adalah:

  1. Form dripstone dan flowstone
    1. Stalactite
    2. Stalagmite
    3. Draperies
    4. Flowstone sheet
  2. Form Erratic
    1. Shield
    2. Helictites
    3. Form Botryoidal
    4. Anthodite
    5. Moonmilk
  3. Form sub-aqueous
    1. Kolam rimstone
    2. Concretion dari berbagai macam
    3. Deposit kolam
    4. Deretan kristal

Klasifikasi diatas dibatasi pada kelompok mineral tertentu, terutama karbonat.

Speleothem Dripstone dan Flowstone

Stalactite

Air muncul di atap gua menggantung sebentar sebelum jatuh ke lantai gua. Selama menggantung tersebut, CO2 menghilang ke atmosfir gua, larutannya menjadi sangat jenuh air, dan bahan mineralnya yang sangat sedikit jumlahnya akan tertinggal melingkar dengan ukuran sama dengan tetesannya. Lingkaran tersebut akan tumbuh ke bawah dengan diameter konstan dan materalnya bertambah terus sampai sebuah tube yang ramping terbentuk. Tube ini agak porous sehingga air dapat merembes melalui antar butirannya dan sepanjang retakan untuk mengendapkan material di bagian luar. Porositas ini disebabkan oleh karena bahan yang diendapkan tersebut menggantung dan terkena gaya gravitasi, sehingga antar butir tidak terikat dengan kuat.

Hasilnya dari mekanisme diatas adalah stalactite, yang memiliki lubang di dalamnya atau paling tidak meninggalkan bekas lubang di tengah kanalnya. Untuk stalactite yang lebih besar, tambahan bahan adalah datang dari tambahan air rembesan dari luar turun melalui luar, lebih banyak daripada dari tengah kanal. Saluran pada stalactite terkadang cukup besar untuk dimasuki butiran pasir atau material klasitik lainnya, dan dapat tergabung kedalam speleothem tersebut.

Banyaknya corak stalactite disebabkan oleh terhambatnya saluran, dan karena variasi panjang musim. Panjangnya stalactite tersebut tergantung kepada berat yang dapat didukung, dan stalactite rusak dan jatuh kebawah akibat bebannya sendiri adalah hal yang lumrah.

stalactite

Gambar Evolusi Stalactite
Gambar 2, C sejajar dengan arah tumbuh
Gambar 3, C radial
Gambar 4, orientasi butiran acak.

Stalagmite

Tetesan yang jatuh kebawah ke lantai gua terus mengendapkan material, dan membangun suatu gundukan yang disebut stalagmite. Kemudian dia tumbuh sebagai bentuk silinder yang semakin tinggi. Radius pertumbuhannya dibatasi oleh tingkat tetesan karena sangat menurunnya tingkat jenuh air atau penguapan sempurna lapisan tipis embun yang tersebar di sekitar titik jatuhnya. Diameter yang seragam menujukkan bahwa adanya kondisi yang konstan selama perode waktu yang panjang.

Proses pertumbuhan dripstone dapat di-angka-kan untuk menghasilkan hubungan matematis antara parameter ukuran dan bentuk serta karakter larutan. Analisis dari Curls (1973) terhadap straw stalactite, menunjukkan bahwa diameter straw berhubungan dengan gaya gravitasi terhadap butir tetesan dan tekanan bidang permukaan dari cairan dengan menggunakan bilangan Bund tanpa dimensi, dengan hubungan sbb:

B0=(r gd2)/s

Dimana B0 adalah bilangan Bond, r adalah densitas dari larutan, g adalah gaya gravitasi, d adalah diameter straw, dan s adalah tekanan bidang permukaan cairan. Dari percobaan ditentukan bahwa bilangan bond adalah sebesar 3.50 untuk straw dengan diameter minimum, yaitu diberikan untuk diamater straw lebih kecil daripada 5.1 mm.
Namun untuk stalagmite dengan bentuk yang kompleks, belum dilakukan penelitian.
Stalagmite memiliki struktur internal yang terdiri dari cuspate layer atau caps (balutan). Stalagmite berusaha mempertahankan keseragaman penampang melintang dapat dijelaskan dengan keseimbangan diameter, d, yang mengukur lebar ke samping dari larutan sebelum deposisi selesai. Franke (1961, 1963, 1965) membuat penggunaan keseimbangan diameter untuk mengevaluasi tingkat pertumbuhan dan kondisi berikutnya dari penambahan larutan. Corak teras (petak) secara tidak langsung menyatakan variasi periode pada tingkat pertumbuhan, dan corak kerucut menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah. Dari pertimbangan terhadap neraca massa tunggal, keseimbangan diamater adalah:

d=2(c0q/pZ)1/2

Dimana c0 adalah kalsit dalam larutan yang ada untuk deposisi (yaitu supersaturasi jika hanya degassing CO2 yang dipertimbangkan, atau total konsentrasi larutan jika cairan diasumsikan menguap untuk kekeringan stalagmite), q adalah tingkat aliran larutan, dan Z = d/Zdt adalah tingkat pertumbuhan vertikal stalagmite.

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstologi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Paleontologi Dan Arkeologi Gua

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Manusia telah memasuki gua untuk berbagai tujuan sejak jaman Paleolitikum, namun penelitian ilmiah terhadap deposit gua untuk paleontologi (dan arkeologi) baru saja berkembang mungkin baru dua abad terakhir ini. PALEONTOLOGI

Untuk paleontologis yang mencari fosil-fosil, gua merupakan salah satu lapangan riset yang paling kaya. Terkadang cukup banyak tulang binatang dengan konsentrasi yang banyak terkumpul bersama-sama dalam ruang yang sangat kecil.

Ada dua faktor yang memberikan sumbangan atas adanya akumulasi semacam itu.

Pertama, gua adalah tempat dimana bangkai cenderung untuk dapat terkumpul oleh proses alamiah. Sebagian gua adalah tempat yang berbahaya, dengan lubang diatapnya. Bangkai binatang atau tanaman jatuh kebawah melalui lubang bercampur dengan tanah dan batu kemudian membentuk suatu gundukan mengkerucut di lantai gua, mungkin pengisian lubang tadi sampai ke permukaan tanah. Beberapa binatang menggunakan gua untuk tempat berbiak, untuk tempat berlindung makan atau tidur dan mungkin ada yang mati atau meninggalkan tulang sisa mangsa mereka disana.

Kedua, sekalipun tidak selalu, gua adalah tempat dimana bangkai sangat besar kemungkinan dapat bertahan sebagai fosil, sekalip waktu mereka telah terdepositkan disana. Pada kondisi normal, pada daerah terbuka, bangkai hewan dan tumbuhan tidak tersisa sama sekali. Biasanya dengan cepat langsung dimakan oleh pemakan bangkai, dan diuraikan oleh bakteri serta pengaruh dari matahari, hjan dan dingin segera menghancurkan baik binatang maupun tanaman. Pengawetan tersebut tidak normal dan dapat terjadi hanya dimana proses dekomposisinya terhalangi, misalnya dengan penguburan yang cepat. Di lingkungan gua hal ini terkadang terjadi. Bangkai terlindungi dari proses akibat perubahan cuaca oleh atap gua; dan kondisi yang berhubungan dengan alkali yang berlaku di gua-gua batugamping bertindak sebagai pengawet tulang-tulang. Di gua non batu kapur, kebalikannya, tulang tidak dapat bertahan. Di gua lava di Gunung Suswa, Kenya, tulang dari badak, mungkin umurnya baru dari abad ini, sudah tercerai berai dan masih mengalami dekomposisi dalam tingkat lanjut.

Informasi untuk paleontologis, mereka harus memasuki dunia arkeologist. Sejak manusia awal dapat menggambarkan apa yang mereka lihat, terkadang pada dinding gua atau rock shelter mereka terlindungi dari cuaca sehingga dapat bertahan sampai sekarang. Subyek yang digambarkan memiliki keragaman seperti misalnya mammoth berbulu, badak berbulu, lembu jantan raksasa, rusa kutub dan ibex, terkadang tergambarkan di lukisan gua di Eropa Barat, sampai dengan mobil masih tergambar sekarang di rock shelter di Afrika Timur. Untuk ilustrasi paleontologis yang sejaman dengan binatang Pleistocene yang punah merupakan special interest dan telah dipergunakan secara luas dalam rekonstruksi artis terhadap suatu jenis species seperti mammoth berbulu dan badak berbulu, yang selama ini hanya dikenal dari fosil-fosil bangkainya.

Fosil gua

 Fosil di Gua Seropan, Ponjong, Gunung Kidul.
(Foto: Bagus Yulianto) SEJARAH PENGGALIAN ILMIAH
TERHADAP PENINGGALAN PALENTOLOGI DI GUA

Manusia telah memasuki gua untuk berbagai tujuan sejak jaman Paleolitikum, namun penelitian ilmiah terhadap deposit gua untuk paleontologi (dan arkeologi) baru saja berkembang mungkin baru dua abad terakhir ini. Sering penemuan-penemuan awal tersebut dihubungkan dengan sisa binatang dalam mitos (di Jermman, unicorn; di Cina adalah naga) dan tidak lagi sejak kedatangan studi ilmiah yang dengan tepat mereka mengidentifikasi sebagai berang gua dan binatang lain yang sudah dikenal. Pada awalnya manusia menggali material gua untuk keperluan nilai ekonomi. Misalnya di Amerika Utara, penambang pra-Columbia terkadang memasuki gua lebih dari dua mil untuk penelitian mirabilit dan gips; gua lain digali untuk penambangan guanonya; dan kemudian sebuah ketertariakn terhadap fosil pun muncul. Ammonit ditemukan di Avelinse’s Hole, Somerset, mungkin diletakkan disitu oleh Manusia Upper Palaeolithic, sebelumnya ditemukan di permukaan dan tidak berasal dari dalam gua (Donovan, 1968). Perantaran manusia terkadang telah invoke untuk menjelaskan fasil gua untuk keadaan stratrigrafi yang mengherankan. Buckland, sebagai contoh (1823), menjelaskan bahwa tangkai dan cincin gading ditemukan dengan tulangnya di Gua Paviland, Wales, telah ditampilkan dari sebuah fosil taring yang amat tua ditemukan lantai gua yang sama. Hanya saja akhir-akhir ini diketahui bahwa tulang maupun gading adalah berumur Upper Palaeolithic dan mungkin kontemporer. Pengumpulan fosil oleh manusia Upper Palaeolithic telah memiliki kesamaan dalil untuk menjelaskan peristiwa dari gigi dari kucing bergigi pisau (sabre-toothed), pada deposit yang dipercayai sebagai awal waktu kepunahan binatang ini, dalam Kent’s Cavern. Devon. Contoh semacam ini sayangnya tidak mungkinuntuk membuktikan peran manusia dalam mengumpulkan material fosil didalam gua.

ARKEOLOGI GUA

Masyarakat prehistorik tidak meninggalkan tulisan, sehingga para ahli arkeologi mencoba membuat rekonstruksi cara hidup mereka dengan melalui bukti material yang tertinggal. Gua yang menerima manusia kemudian menyimpan yang ditinggalkan manusia; hal ini adalah alasan bahwa respek terbesar dikenakan pada semua depost gua. Arkeologi gua merupakan subyek yang multidisiplin. Sehingga seorang pimpinan penggalian harus memanggil banyak ahli untuk meminta bantuan mereka; pertanyaan-pertenyaan khusus harus dijawab, dan mereka harus mengetahui implikasi dari jawaban mereka tersebut.

Aturan tersebut diatas memang merupakan alasan yang kuat, terutama bagi pembaca yang memiliki latar belakang ilmu pengetahuan. Namun sebenarnya hal tersebut juga harus juga diikuti oleh setiap orang yang berjalan melalui lorong gua.

Penggalian artefak, apakah manik-manik, mangkuk, atau persembahan, memiliki suatu nilai yang hakiki; tetapi penemuan, asalnya dan horisonnya, dikumpulkan dengan penemuan yang lainnya, yang memiliki kesamaan arti arkeologis.

Homo erectus.

Nama Pithecanthropus telah dipergunakan selama lebihj dari tujupuluh tahun, tetapi sekarang menggunakan istilah Homo erectus. Desngan kapasitas tengkoran sekitar 1000 cc, spesies yang terkenal adalah Manusia Peking dan manusia Jawa. Keberadaan Manusia Peking dan Jawa berada pada kelompok gua di kawasan batugamping Silurian dekat desa Chou-Kou-tien. Peninggalan hominid dihubungkan terhadap runtuhan kedudukan termasuk tidak hanya peninggalahn mamalia tetapi peralatan pebble dan flake dan perapian. Umur peninggalan ini diperkirakan sekitar 400.000 tahun berada di endapan alluvia Bengawan Solo, bahkan mungkin lebih tua lagi, dan ada sedikit keraguan bahwa mungkin hominid ini adalah pemburu binatang. Beberapa temuan artefak seperti; biji-bijian, serpihan dan alat peraut, pisau, ujung dan burin, ditemukan di gua-gua misalnya di Le Lzare di Nice dan Combe Grenal di Dordogne.

Homo sapiens neanderthalensis

Ukuran otak manusia neanderthal yang ditunjukkan oleh antropologist modern adalah 1350-1600cc. Pertamakali ditemukan di Gua Neanderthal dekat Dusseldorf tahun 1856. Di Gua Shanidar, Gunung Baradost, di Irak, hasil analisis pollen menunjukkan adanya iklim yang lebih panas dari sekarangselama Interglacial Akhir. Tujuh manusia Neanderthal terkubur di gua dan contoh tanah yang diambil dari penutup tulang tidak menunjukan sebuah gambaran ekologi tetapi adanya pemusatan polen dari beberapa spesies bunga. Yang nampaknya telah diambil dan ditempatkan dalam gua berbarengan dengan tubuh itu.

Pisau yang lebih baru yang dipergunakan oleh manusia neanderthal ditemukan bersama seorang anak di kuburan gua di Tesik Tas, Uzbekskaya, U.S.S.R. Kepala anak laki-laki tersebut sebagian dikelilingi oleh lingkaran tanduk ibex menusuk ke dalam tanah; belum tentu hal yang semacam ini dapat dianalisis sebagai suatu upacara ritual tertentu menggunakan petunjuk singkat ini. Tetapi ada penjelasan yang dapat diambil bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat pemburu.

TEMUAN-TEMUAN DI INDONESIA

Gua Braholo, Gunung Kidul, DIY.
Gua Seplawan, Purworejo, Jawa Tengah
Gua Leang PattaE, Maros, Sulawesi Selatan
Gua Cacondo, Uleleba, Balisao
Gua Pattakare I, Taman Purbakala Maros, Sulawesi Selatan
Gua Leang Bua, Manggarai, Flores Barat.
Gua Song Keplek, Pacitan, Jawa Timur.
Gua Pasetran Gondomayit, Tulungagung, Jawa Timur.
Gua-gua di Tuban, Jawa Timur.
Gua Benteng Tundakan, Tundakan, Kalimantan Selatan
Gua Tewet , Kalimantan Timur

Daerah Istimewa Yogyakarta
GUNUNG KIDUL

Kembali

Gua Braholo Lokasi: Kec. Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Ditemukan sekitar 10 kerangka manusia relatif masih utuh, disamping artefak (batu serpih atau flake yang terbuat dari tulang) dari jaman pra-neolitikum. Dipercayai ras Austromelanesid.

JAWA TENGAH
PURWOREJO

Kembali

Gua Seplawan


Lokasi :
Desa Donorojo, Kec. Kaligesing, Kabupaten Purworejo

Sumber :
· Penemu Arca Di Gua Seplawan Terima Rp 10 Juta (Berita Buana 16 Agustus 1980)
Sepasang arca emas (900 gr), alas arca perak (650 gr), canting emas (15,6 gr), irah-irahan perak (40,6gr), sendok perak/ gayung (38 gr). Penemu : Soemiredjo, Tjokrotinoyo, Kodri, Mudjiono. Ditemukan tanggal 28 Agustus 1979. Oleh banyak ahli diperkirakan bahwa di dalama gua masih terdapat beberapa peninggalan lagi namun belum dapat ditemukan.

· Susunan Alam Gua Seplawan Ingatkan Filsafat Navasanga (Kedaulatan Rakyat 12 Desember 1983, laporan Radix Penadi)
Situs purbakala candi GONDO ARUM. Umur kira-kira 1000 th yll. Situs Gua Seplawan dikelilingi oleh 8 bukit: bukit Pondok Gede, bukit Seplawan, bukit Sibentar, bukit Temanten, bukit Botoh Roboh, bukit Beser, bukit Si Glendeng, bukit Pring Gading. Ini yang disebut mewakili konsep Navasanga. Yaitu filsafat yang menggambarkan setiap mata angin dikuasai oleh dewata. Filsafat Sivaistis yang berhubungan dengan bunga Padma yang selalu mempunyai 8 helai daun bunga mengelilingi pusatnya. Sangat memenuhi syarat filsafat Siva Lingga.

· Pembangunan Situs Gua Seplawan Langgar Ordonansi Cagar Budaya(Kedaulatan Rakyat 14 Desember 1983, laporan Radix Penadi)
Pembangunan situs Gua Seplawan melanggar ordonansi cagar budaya.

· Gua Seplawan Di Purworejo Sering Dijadikan Tempat Bertapabrata (Merdeka, 6 Okt 1980, Laporan Suryanto Sastroatmodjo)
Menurut buku “Serat Kidung Kedung Kebo” ditulis oleh Tumenggung Cokronegoro (Bupati Purworejo tahun 1817), Gua Seplawan semula adalah gua buatan yang dibuat oleh ahli pahat kerajaan Kaladhahu. Raja Kaladhahu merupakan raja taklukan Mahaprabu Watuhumalang dari dinasti Sanjaya. Nama Kaladhahu inilah yang diperkirakan menjadi inti dari nama Kedu.
Seorang bangsawan berhati lembut bernama Raden Gesing adik bupati Purworejo, Potrokusumo II, menggunakan gua ini (sebelumnya dikenal dengan nama Gua Donorojo) sebagai markas gerilya. Karena gua ini digunakan oleh kesatria “SEPEHI LAWAN” (yang memusuhi orang Sepehi), yang kemudian disebut Kesatri Sepehi Lawan (Seplawan).

Tapabrata:
Pelaku tapabrata di sekitar gua ini dilakukan 7-40 hari, terkadang dengan tapa kungkum.

SULAWESI SELATAN
MAROS

Kembali

Gua Leang PattaE

Sumber : Lukisan di Maros Bukti Kehadiran Manusia Purba,
(Mutiara, 5 Desember – 18 Desember 1984),
Naskah dan foto Norman Edwin.

Obyek:
· Cap telapak tangan dan lukisan babi di dinding gua
· Lukisan purbakala untuk kontak magis.
Yaitu :
– Lukisan babi untuk menambah hasil dalam setiap berburu. Ditemukan mata anak panah di jantung lukisan babi.
– Cap tangan adalah simbol menolak bala. Cap tangan di dinding jari-jarinya tidak lengkap sebagai simbol berkabung.
Dibuat pada masa berburu dan meramu (5000 th yll)

Kembali

Gua Cacondo, Uleleba, Balisao

Sumber: Lukisan Gua Cermin Kearifan Lingkungan
Dody Johanjaya
Obyek temuan :
· Alat batu, gerabah, sisa tulang manusia dan hewan
· Suku Toala masih tinggal di hutan dan gua-gua

Penilitian ini dilakukan oleh Paul dan Frits Sarasin tahun 1902-1903. Mereka perintis penelitian di gua-gua.

Kembali

Gua Pattakare I

Sumber: Lukisan Gua Cermin Kearifan Lingkungan
Dody Johanjaya
Lokasi: Taman Purbakala Maros
Obyek temuan:
· Beberapa lukisan cap tangan berwarna merah
· Lukisan babirusa sedang melompat, pada bagian jantung terdapat gambar mata panah.

Ditemukan oleh GHM Heekeren tahun 1950.

Kembali

NUSA TENGGARA TIMUR
Manggarai, Flores Barat

Gua Leang Bua

Sumber:
Menyusuri Jejak Manusia Purba Leang Bua (Laporan 3 edisi dari Wartawan SH Umar Nur Zain)
– Di Gua Yang lembab Itu Mereka Bermukim, (Sinar Harapan 26 Juli 1978)
– Di Kawasan Itu Memang Banyak Terdapat Gua, (Sinar Harapan 27 Juli 1978)
– Setelah Seminggu Tengkorak Mulai Ditemukan, (Sinar Harapan 28 Juli 1978)

Lokasi: Kampung Teras, Desa Leangbua, Kecamatan Pembantu Ruteng, Manggarai, Flores Barat

Obyek temuan:
· Tengkorak kepala manusia, gigi, kerangka lengkap dengan kaki, tengkorak bayi, dan seorang diduga wanita,
· Bekal kubur
· Kapak logam,
· Periuk gembung, periuk berleher panjang
· Pecahan rijang dan sisa makanan

Gua Leang Bua ditemukan tahun 1950.
Penggalian pertama dilakukan oleh Dr. Th. Verhoeven sekitar tahun 1965.
Manusia pemukim Leang Bua adalah pada jaman neolitikum, sudah dapat bercocok tanam.
Tengkorak yang ditemukan dikirim kepada Prof. DR. Teuku Jacob di UGM.
Penggalian dilakukan oleh Arkeolog dari Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Dipimpin oleh DR. Soejono (Kepala Pusat Penelitian Kepurbakalaan dan Peninggalan Nasional), Prof. DR. Sartono, Drs. Santoso Soegondo.

Sumber:
Liangbua, Gua Prasejarah Yang Terisolasi, (Kompas, 27 Agustus 1996)

Penggalian pertama kali dilakukan oleh pastor Th. Verhoeven. Dari penelitian diduga bahwa gua ini pernah menjadi pusat kehidupan manusia prasejarah, mulai awal epi paleolitik sekitar 10.000-200.000 tahun silam dan paleometalik sekitar 1.000 hingga 10.000 tahun silam. Belum dapat dipastikan apakah dipakai sebagai tempat tinggal, sekedar pusat kegiatan, atau kuburan.
Gua Liangbua berarti adalah mulut naga.
Rute kendaraan: Ruteng-Wae Racang (empat kendaraan per hari). Jalan kaki dari Wae Racang ke mulut gua ± 1 km.

JAWA TIMUR
PACITAN
Kembali

Gua Song Keplek Ditemukan sekitar 10 kerangka manusia relatif masih utuh, disamping artefak (batu serpih atau flake yang terbuat dari tulang) dari jaman pra-neolitikum. Dipercayai ras Austromelanesid.

TULUNG AGUNG
Kembali

Gua Pasetran Gondomayit


Sumber:
FOSIL MANUSIA PURBA DI GUA “PASETRAN GONDOMAYIT”, Kompas, 26 desember 1978.

Lokasi:
Desa Sine, Kec. Kalidawir, Tulung Agung. Pantai Samudera Indonesia.

Obyek temuan:
· Kerangka manusia : tulang rahang dan gigi, tulang paha, tulang lengan
· Tulang binatang sebangsa kijang dan tulang ikan, kulit siput, kerang yang terpotong ujungnya
· Pecahan tembikar, hiasan dari tutup siput, kapak tapis pemotong kulit siput.

Ditemukan oleh Drs. Abdurachman (Pembantu Gubernur Jawa Timur di Kediri), petugas kecamatan, pamong desa, penduduk.
Tulang dan benda-benda tersebut dikirim di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Asal nama gua:
Tempat gua tersebut sebelumnya adalah Ngejungan. Konon sebuah perahu pernah mendarat, dan 44 awaknya merampok penduduk dan meminta agar Demang Sine menyerahkan istrinya. Ki Demang Sine yang bernama Tatakriyak memberi mereka sesaji yang beracun agar mereka mabuk. Dalam keadaan mabuk mereka dipukuli penduduk hingga 40 orang diantaranya tewas. Keempat yang selamat kemudian mengarungi lautan. Dan yang mati dibuang di dalam gua yang kemudian dinamakan gua Pasetran Gondomayit.

Deskripsi Gua:
Dinding gua retak dan berbahaya. Letak mulut gua 20 m dpl. Menghadap ke laut Selatan. Luasnya sekitar 60 m2.

Menurut laporan pencari sarang burung walet, di gua-gua lain di kecamatan Tanggunggunung ditemukan tulang belulang dan kulit siput dan kerang.

Kembali

TUBAN
Lokasi :
Tersebar di 10 Kecamatan: Tuban, Sumanding, Rengel, Plumpang, Widang, Kedunuran, Jojogan, Tambakrejo, Montog, Jenu, Merakurak

Sumber:
Penemuan-penemuan di Gua-gua Tuban Kepastian Dihuni Manusia Jaman Mesolothicum belum Terungkap, (Kompas, 9 Agustus 1979).

Obyek temuan:
· Sisa-sisa anak panah
· Kapak batu
· Perhiasan dari kerang
· Pecahan peralatan rumah tangga
· Serpihan tulang hewan sapi, kerbau, harimau, menjangan, kelelawar, anjing, babi dan serigala yang sejaman dengan manuisa Jawa kuno yang diduga pernah tinggal di gua tersebut.

Penelitian dilakukan oleh tim yang diketuai oleh Drs. Gunadi Nitihaminoto dari Proyek Penelitian dan Peninggalan Purbakala Yogyakarta. Lokasi ini ditemukan berdasarkan sebuah buku yang menyebutkan bahwa seorang tenaga ahli berbangsa Belanda W.J.A. Willems sekitar tahun 1930 pernah melakukan penggalian di gua-gua di Tuban. Penggaliannya menemukan perhiasan dari kulit kerang serta pecahan bekas peralatan manusia. Tidak ada catatan mengenai hasil penggalian dan penyimpanan barang-barang tersebut.

KALIMANTAN SELATAN
Kembali

Gua Benteng Tundakan


Sumber : Benteng Tundakan, Pertahanan Terakhir Perang Banjar, (Kompas, 31 Agustus 1979)
Lokasi : Tundakan, Kalimantan Selatan

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstologi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | 1 Comment »

Sedimentologi dan Mineralogi Gua

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Sedimen

Batuan terbagi-bagi ketika proses transport dari sumbernya ke tempat akhir di gua yang mungkin terhenti dalam sebuah gua dan memberikan kepada kita informasi tidak hanya sejarah batuan itu sendiri tetapi juga guanya. Sedimen tersebut dapat kita klasifikasikan menjadi:

Endogenetik (autochthonous) berasal dari proses internal, yaitu yang terjadi dalam gua.
Eksogenetik (allochthonous) berasal dari sumber eksternal dan terbawa kedalam gua oleh alat transportasi seperti angin, air, dan es, atau dengan cara biologis.

Material sedimen dari sumber endogenik termasuk diantaranya adalah residu dari batugamping itu sendiri yang tidak larut. Ornamen gua yang indah seperti stalactite dan stalagmite, pilaar, draperies, dll, termasuk berasal dari proses internal ini (endogenetik).

Material sedimen dari sumber eksogenetik berasal dari proses yang berlangsung pada permukaan diluar gua, atau lebih jauh lagi. Yang terbawa oleh angin, air atau es, dan terkadang oleh perantara biologis. Material wind-borne biasa diperoleh di dekat entrance sebagai layer partikel debu yang halus. Terkadang oleh air atau sarana transportasi yang lain dapat terbawa sampai jauh ke dalam gua. Seperti misalnya di beberapa gua di karst Gombong Selatan, banyak terdapat batuan beku yang berserakan dilantai gua, misalnya G. Petruk, G. Sumurup (Bleber) di Kecamatan Ayah.

Mineral gua

Beberapa mineral secara umum ada di gua cukup kecil tetapi karena berbagai mekanisme deposisi (oleh evporasi, tetesan air, aliran air, kolam di standing water, dll) ada banyak karakter bentuk. Bentuk-bentuk tersebut dikenal dengan speleothem (Moore, 1952) atau cave formation.

Ada tiga macam material yang ditemukan dalam gua:

  1. Fragment bedrock dan debris yang tertinggal dari perombakan bedrock
  2. Material yang tertransport ke dalam gua oleh aktifitas mekanis air, angin, dan grfitasi
  3. Material yang dibentuk dalam gua oleh deposisi kimiawi.

Deposit kimia berhubungan dengan sedimen kimia dapat dianalogikan dengan sedimen kimia yang terbentuk di dana dan laut di permukaan bumi. Dapat diklasifikasikan kedalam istilah sesuai dengan mineral dominanbya yaitu:

  1. Mineral karbonat
  2. Mineral evaporite
  3. Mineral fosfat dan nitrat
  4. Mineral oksida dan mineral lain

Speleothem

Kesepakatan dalam klasifikasi speleothem memiliki dua hirarki; form (bentuk) dan style (corak). Form adalah speleothem dengan bentuk dasar yang dapat membedakan berdasar pada perilaku pertumbuhan mineral atau mekanisme dasar deposisinya. Style adalah klasifikasi lanjutan dari form yang menjelaskan bentuk berbeda yang merupakan hasil dari perbedaan tingak aliran, tingkat deposisi, dan faktor lainnya.

Daftar form speleothem menurut kesepakatan adalah:

  1. Form dripstone dan flowstone
    1. Stalactite
    2. Stalagmite
    3. Draperies
    4. Flowstone sheet
  1. Form Erratic
    1. Shield
    2. Helictites
    3. Form Botryoidal
    4. Anthodite
    5. Moonmilk

C. Form sub-aqueous

    1. Kolam rimstone
    2. Concretion dari berbagai macam
    3. Deposit kolam
    4. Deretan kristal

Klasifikasi diatas dibatasi pada kelompok mineral tertentu, terutama karbonat.

MINERAL KARBONAT

Mineral karbonat melingkupi klasifikasi speleothem diatas. Air tanah berkarbonat terutama mengandung Ca++ dan Mg++ dengan konsentrasi Sr++ dan Na++ yang lebih kecil. Kebanyakan karbonat gua mengandung sedikit magnesium kalsit. Konsentrasinya hanya sekitar satu atau dua prosen.

Mineral karbonat di depositkan ke dalam gua oleh proses transportasi dimana material tersebut terbawa kedalam gua oleh gerakan air tanah dan ditinggalkan sebagai speleothem karbonat.

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstologi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Teori Moderen Pembetukan Gua

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Di tahun-tahun terakhir ada sebuah peralihan yang penting, dari penggunaan teori fisiografi dan pertimbangan kualitatip teori “klasik” menuju ke pendekatan proses yang lebih kuantitatip. Berbagai studi terakhir telah meneliti keadaan geologi, hidrologi, serta pelapukan kimiawi dan mekanis oleh pelapukan oleh iklim dan proses erosi yang berhubungan terhadap perguaan dan perkembangan karst. Bacaan yang merujuk ke hal-hal yang komprehensif misalnya yang dilakukan oleh Jennings (1985), Sweeting (1973), Ford dan Cullingford (1976), White (1988), Ford dan William (1989).

Menurut Ford (1981), sekarang dikenal bahwa tidak ada satupun kasus umum dari perkembangan gua batu gamping yang secara tepat dapat ditetapkan seperti teori lama. Lebih dari itu, ada tiga kasus yang umum, gua vadose predominan, gua deep phreatic dan gua water table (Gambar 1).

Satu atau beberapa tipe perkembangan gua yang umum bahwa terjadi dipengaruhi oleh frekuensi penetrasi air tanah di rekahan yang signifikan, dan oleh perbandingan kekar ke bidang perlapisan. Secara bersama-sama, karakteristik ini berkombinasi membentuk konsep konduktifitas hidrolik. Konduktifitas hidrolik adalah sebuah koefisien perbandingan yang menjelaskan tingkatan dimana air dapat bergerak melalui media permiabel (Fetter, 1980). Mekin tinggi konduktifitas hidrolik, makin besar kemungkinan sebuah gua water table akan berkembang. Gua water table sangat lazim adalah pada lapisan batuan yang datar, dimana penempatan air tanah terjadi karena adanya layer batu yang lebih resist. Penetrasi dalam dari air terhalang oleh adanya pembukaan dangkal bidang perlapisan yang mana terus menerus menjadi menjadi mata air. Gua tipe vadose berkembang pada aliran air yang cukup terkumpul diatas titik sink dan mengangkut air menuju water table atau mata air. Gua deep phreatic mencapai perkembangan optimal pada batuan dengan kemiringan yang tajam karena terus menerus mengikuti bidang perlapisan ke tempat yang lebih dalam.

Palmer (1984) mencatat bahwa lorong yang lebih besar dari banyak gua memperlihatkan sebuah urutan level dari yang termuda, bagian yang masih aktif, berada di elevasi terbawah. Pada level yang mana terjadi pelebaran terkonsentrasi pada atau didekat bagian yang sejaman dengan level sungai. Penelitian di Kentucky oleh Miotke dan Palmer (1972), menunjukkan bahwa pola perguaan merupakan refleksi dari sejumlah perubahan pada base level dan iklim sejak Periode Tersier Akhir (Gambar 2).

Palmer (1984) juga mencatat bahwa perkembangan gua mungkin diatas atau dibawah water table. Dimana gua-gua terbentuk tergantung pada geologi setempat, dan hidrologi, dan mungkin untuk satu gua memiliki lorong terbentuk diatas atau dibawah water table. Dia lebih lanjut menekankan bahwa hubungan yang lebih jelas dalam beberapa area antar level gua dan sejarah fluvial, menampilkan kecenderungan pelarutan untuk sampai ke water table.

Fakta-fakta lokasi yang tersebut disini berasal dari berbagai peneliti karst sehingga makin menjelaskan evolusi gagasan mengenai speleogenesis gua. Debat diantara peneliti terdahulu, apakah gua bermula di bawah atau di atas water table telah secara mendasar dapat diselesaikan. Sekarang dapat diterima bahwa tiga asal muasal tersebut dapat terjadi mungkin tergantung kepada kondisi hidrologi dan geologi setempat.

Situs asli: http://www.dyetracing.com/karst/

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstologi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Teori Klasik Pembetukan Gua

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

TEORI KLASIK MENGENAI PERKEMBANGAN PERGUAAN

(Bagian ini diperoleh dari Reeder, (1988)


Banyak debat intensif yang terjadi selama abad ini yang menyangkut ilmu pengetahuan geomorfologi yang berhubungan dengan asal muasal gua di batu gamping. Apakah gua terbentuk diatas water table (zona vadose), dibawah water table (zona phreatic), atau pada bidang dari water table itu sendiri? Beberapa teori dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Teori Vadose-Dwerry house (1907), Greene (1908), Matson (1909), dan Malott (1937) mempertahankan bahwa sebagian besar perkembangan gua berada di atas water tabel dimana aliran air tanah paling besar. Jadi, aliran air tanah yang mengalir dengan cepat, yang mana gabungan korosi secara mekanis dengan pelarutan karbonat, yang bertanggung jawab terjadap perkembangan gua. Martel (1921) percaya bahwa begitu pentingnya aliran dalam gua dan saluran (conduit) begitu besar sehingga tidak berhubungan terhadap hal terbentuknya gua batu gamping sehingga tidak relevan menghubungkan batugamping yang ber-gua dengan dengan adanya water table, dengan pengertian bahwa permukaan tunggal dibawah keseluruhan batuannya telah jenuh air.
  2. Teori Deep Phreatic-Cjivic (1893), Grund (1903), Davis (1930) dan Bretz (1942) memperlihatkan bahwa permulaan gua dan kebanyakan pembesaran perguaan terjadi di kedalaman yang acak berada di bawah water table, sering kali pada zona phreatic yang dalam. Gua-gua diperlebar sebagai akibat dari korosi oleh air phreatic yang mengalir pelan. Perkembangan perguaan giliran kedua dapat terjadi jika water table diperrendah oleh denudasi (penggundulan) permukaan, sehingga pengeringan gua dari air tanah dan membuatnya menjadi vadose dan udara masuk kedalam gua. Selama proses kedua ini aliran permukaan dapat masuk ke sistem perguaan dan sedikit merubah lorong gua oleh korosi.
  3. Phreatic Dangkal atau Teori Water Table-Swinnerton (1932), R Rhoades dan Sinacori (1941), dan Davies (1960) mendukung gagasan bahwa air yang mengalir deras pada water tabel adalah yang bertanggungjawab terhadap pelarutan di banyak gua. Eleveasi dari water table berfluktuasi dengan variasi volume aliran air tanah, dan dapat menjadi perkembangan gua yang kuat didalam sebuah zone yang rapat diatas dan dibawah posisi rata-rata. Betapapun, posisi rata-rata water table harus relatif tetap konstan untuk periode yang lama. Untuk menjelaskan sistem gua yang multi tingkat, sebuah water table yang seimbang sering dihubungkan dengan periode base levelling dari landscape diikuti dengan periode peremajaan dengan kecepatan down-cutting ke base level berikutnya.

Sekalipun sebagian besar speleologis akan setuju bahwa tiga teori diatas dapat diaplikasikan pada beberapa hal, kebanyakan akan diperdebatkan apakah gua dibentuk terutama pada atau didekat water table. Masuknya aliran bawah permukaan, biasanya dikelompokkan sebagai teori vadose, telah memiliki sedikit dukungan selama beberapa tahun. Mallot (1937) menyimpulkan bahwa gua-gua yang besar di bagian Selatan Indiana dihasilkan dari aliran permukaan menjadi terbelokkan kedalam bawah tanah dan membuat gua-gua pada atau didekat water table. Mallot (1952) menyebutkan Lost River di Indiana adalah salah satu contoh yang baik dari invasi aliran permukaan terhadap bawah permukaan. Woodward (1961) dan Howard (1963), dan Crawford (1978; 1987) terkenal diantara yang lainnya yang memiliki usulan mengenai teori invasi terhadap perkembangan gua.

Dalam diskusi hidrologi daerah batu gamping Smith, Atkinson dan Drew (1976) mengusulkan bahwa debate pada alam drainase batu gamping telah terjadi antara dua kampus yang besar sedangkan sebelumnya ada tiga.

Satu kampus, mengambil gagasan dari Grund (1903), telah mempertahankan bahwa sirkulasi air dalam batu gamping secara mendasar sama dengan rekahan batuan lain, dan untuk itu gua-gua berkembang sebagai sebuah konsekuensi dari sirkulasi dan tidak besar pengaruh polanya (lihat, sebagai contoh, Davis, 1930; Swinnerton, 1932; Rhoades dan Sinacore, 1941). Di pihak lain, kampus berikutnya mengikuti Martel (1910) cenderung untuk mempertahankan bahwa tanpa gua dan lorong tidak akan terdapat sirkulasi bawah tanah, atau secara virtual tidak ada, dan untuk itu rezim air tanah kawasan batugamping sama sekali berbeda dengan batuan lain (Trombe, 1952). (Ford dan Cullingford, 1976, p. 209).

Mereka menyimpulkan bahwa dua model yang rupanya saling berseberangan antara Grund dan Martel adalah tipis, kecuali kasus yang ekstrim dari berbagai pandangan mengenai kemungkinan sistem drainase dan bahwa sebagian besar bentukan rupa kawasan batugamping dari dua kampus, sedangkan area yang menampilkan salah satu bahan dari yang lain adalah tipis saja.

Problem utama dari teori klasik dari asal muasal gua adalah peran minor yang dialamatkan terhadap struktur, stratigrafi, topgrafi, dan keadaan hidrologi. Sekarang terlihat nyata bahwa tidak ada satu teori tentang asal muasal dan perkembangan gua dapat diaplikasikan ke semua gua. Ford (Ford dan Cullingford, 1976) bertahan bahwa dimulai sejak dua situasi geologi tepat sama, satu teori umum dari speleologi adalah tidak mungkin. Sekalipun banyak faktor umum untuk terhadap banyak area kepentingan relatif mereka akan tergantung kepada situasi geologi dan kemudian tiap area akan memiliki sejarah speleogenisis sendiri yang unik.

Sedangkan, jika ada area dengan situasi geologi yang sangat sama, dapat dipercayai bahwa model speleogenesis dapat dikembangkan untuk daerah yang memilki kesamaan struktur, stratigrafi, setting topografi dan hidrologi.

 Situs asli : http://www.dyetracing.com/karst/

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstologi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Sejarah Speleologi

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Kata speleology diambil dari bahasa yunani yaitu spelaion= gua, dan logos= ilmu. Menurut catatan, John Beaumont, seorang ahli bedah dari Somerset, Inggris, yang juga dikenal sebagai ahli pertambangan dan geologi amatir, sebagai orang yang pertama menuruni sumuran (potholing) pada tahun 1674. Dia menuruni sumuran sedalam 20 meter dan emnemukan ruangan sepanjang 20 meter, lebar 3 meter dan ketinggian plafon 10 meter, dengan menggunakan penerangan lilin. Menurut catatan Beaumont merangkak sejauh 100 meter dan enemukan jurang (internal pitch). Ia mengikat pada tali di tubuhnya dan minta diulur sedalam 25 meter dan mengukur ruangan dalam gua tersebut. Ia melaporkan penemuan ini ke Royal Society, lembaga pengetahuan Inggris.

Kemudian Johann Weichard Frh. von Valvasor dari Slovenia, mendiskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680. Tak kurang dari 70 gua, dia membuat peta dan menerbitkannya. Semenjak munculnya publikasi mengenai gua, semakin banyaklah orang memasuki gua.

Sekalipun sejak abad 17 orang sudah mulai menjadikan gua sebagai obyek petualangan dan hanya pada kalangan terbatas, baru pada abad 19, muncul resmi ilmu speleologi atas berkat jasa Edouard Alfred Martel . Dia menciptakan metode penuh disiplin dan tertib, mengubah tata cara penelusuran gua sbelumnya dengan menstandarkan perlengkapan dan bekal yang harus dibawa.

Sewaktu kecil dia sudah mengunjungi gua Hahn di Belgia dengan ayahnya seorang ahli paleontologi, kemudian juga mengunjungi gua di Pyrreneenne di Swiss dan Italia. Pada tahun 1888 dia mulai mengenalkan penelusuran gua dengan menggunakan peralatan, pada seiap musim panas di dan teman-temannya mengunjungi gua-gua dengan membawa dua gerobak penuh peralatan dan bahan makanan serta alat fotografi. Dia juga membuat pekaian berkantung banyak yang sekarang disebut coverall. Kantung ini diisu dengan peluit, batangan magnesium, 6 lilin besar, korek api, batu api, martil,

Tahun 1889 ia berhasil menjejakkan kakinya di kedalaman 233 meter di sumuran Ranabel, Perancis. Tidak berlebihan memang jika dia kini diakui sebagai “bapak speleologi”. Kemudian bermunculannya penelusur gua dan ahli speleologi lain yang terkemuka seperti Fournier, Jannel, Biret, Gaupilat dan masih banyak lagi. Baru ketika Perang Dunia I usai, muncul Robert de Joly dan Norbert Casteret yang kalibernya mampu mengimbangi Martel.

De Joly memulai kiprahnya berdasarkan pengalamannya sewaktu berdinas di Angkatan Udara. Ia menciptakan alat-alat yang terbuat dari allumunium alloy, logam campuran yang juga dipergunakan pada badan pesawat. Norbert CastereT, adalah orang yang tercatat pertama kali melakukan cave diving di tahun 1922. Bukunya yang berjudul “My Cave” dan “Ten Years Underground” mengilhami para ahli speleologi sesudahnya. Karena itulah negara Perancis dianggap sebagai kiblat dari ilmu speleologi.

Prof. Dr. Alfred Bögli adalah seorang yang terkemuka dalam bidang speleolgy pada abad 20. Dengan bukunya yang mampu menginspirasi semua orang yang mendalami karstologi, hidrologi karst, dan speleologi.

Sejarah Gua Wisata

Wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Francis dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama Gua Postojna) di Yogoslavia. Kemudian wiraswastawan Josip Jersinovic mengembangkannya sebagai tempat wisata dengan memudahkan tempat itu dapat dicapat. Diberi penerangan dan pengunjung dikenai biaya masuk. New York Times pada tahun 1881 mengkritik bahwa keindahan gua tersebut telah dirusak hanya untuk mencari keuntungan.

Stephen Bishop pemandu wisata yang paling berjasa, ia budak belian yang diperkenalkan oleh Franklin Gorin seorang pengacara yang membeli tanah di sekitar gua Mammoth, di Kentucky, Amerika Serikat, pada tahun 1838. Dan kini UNICEF menerima gua tersebut sebagai warisan dunia (world herritage).

Dibawah ini adalah orang-orang yang memiliki peran besar dalam bidang geologi dan speleologi dunia.

  1. Karel Absolon
  2. Georgius Agricola
  3. Franco Anelli
  4. Alfred Bögli
  5. Abbé Henri Breuil
  6. Rev. George Forrest Browne
  7. Dean William Buckland
  8. Norbert Casteret
  9. Floyd Collins
  10. Robert de Joly
  11. Déodat de Dolomieu
  12. Herbert W. Franke
  13. Antonio Núñez Jiménez
  14. Athanasius Kirchner
  15. Georg Kyrle
  16. E. A. Martel
  17. George A. Maximovich
  18. Anne and Tony Oldham
  19. Gaius Plinius Secundus
  20. Emil Racovita
  21. Haroun Tazieff
  22. Leander Tell
  23. Hubert Trimmel
  24. Johann Weichard Frh. von Valvasor
  25. Jindřich Wankel
  26. Dr. Benno Wolf

Sejarah Speleologi di Indonesia

Di Indonesia kegiatan speleologi, tercatat dimulai pada tahun 1982 dengan datangnya berbagai tim speleologi dari Ingris dan Perancis. Saat itu sebuah kelompok ahli hidrogeologi dan sebagian adalah anggota British Cave Researche Association, datang di kawasan karst Gunung Sewu atas undangan dari pemerintah daerah untuk mensurvey sunga-sungai bawah tanah dan gua-gua. Tak kurang dari 250 gua telah disurvey dan dipetakan.

Berikutnya juga wilayah-wilayah lain di Indonesia, seperti Kalimantan dan Sulawesi, mulai dikunjungi oleh tim Perancis.

Menyusul berdiri Specavina di Indonesia sekitar tahun 1980, yang disitu ada Dr. RKT KO, yang kemudian mendirikan HIKESPI, dan Norman Edwin, seorang pendaki gunung yang legendaris. Pada tahun 1984 berdirilah Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia dan beberapa kelompok penelusuran gua di seluruh wilayah Jawa dan Bali, diantaranya adalah:

  • JSC, Jakarta Speleo Club
  • DSC, Denpasar Speleogical Club
  • BSC, Bogor Speleological Club
  • Scala, Speleo Club Malang
  • ASC, Yogyakarta

Di tahun 1992 di Yogyakarta berdiri suatu forum tukar menukar informasi dan pengetahuan dalam bidang caving dan speleologi. Forum itu disebut Arisan Caving Yogyakarta, yang sampai sekarang masih aktif mengadakan pertemuan-pertemuan dan kegiatan bareng.

Di Semarang tahun 1996, berdirilah forum yang sama di fasilitasi oleh Unit KSDA Jawa Tengah. Forum ini disebut KSS, Koordinasi Speleologi Semarang.

Beberapa tahun kemudian, di sekitar Surakarta, berdirilah Forum Caving Surakarta

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstologi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Geologi Gua

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Batuan sedimen batugamping disusun dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang menghasilkan kalsium karbonat sebagai bagian dari metabolismenya membentuk bagian utama dari batugamping. Komponen lainnya adalah dari pengendapan secara kimiawi atau oleh proses biokimia. Secara bersama-sama tersedimentasi pada dasar laut; dan hal ini tidak memilki karakter yang seragam diseluruh bagiannya, jadi batugamping bukan merupakan komposisi yang seragam. Jenis dari batugamping ini sangat tidak terbatas. Sederetan sejarah dari jenis sedimentasi adalah litifikasi, formasi batuan dari bentuk yang khusus. Hal ini melibatkan perubahan kimia yang komplek seperti halnya adalah sementasi dan rekristalisasi, silikafikasi dan dolomitasi: secara bersama-sama biasa disebut dengan istilah diagenesis. Gua-gua hanya dapat dibentuk dari batuan yang ter-litifikasi, dan jelas bahwa karakter sedimen semula dan sejarah diagenetik adalah faktor-faktor yang mengontrol lokasi sebuah gua.

Proses kelahiran sebuah gua biasa disebut dengan speleogenesis, dan fitur dari geologi sangat besar pengaruhnya disini.
Ada beberapa sistem pengklasifikasian batugamping (limestone). Sebagian tergantung kepada komponen perbedaan lingkungan formasi, perbedaan material komponen, perbedaan ukuran butir, perbedaan matrix, dan perbedaan perubahan diagenesisnya. Berbagai sistem klasifikasi tersebut memungkinkan untuk adanya derajat gradasi antar klasifikasi dan ada beberapa kelengkapan tambahan.

Adapun mineral dari batugamping adalah:

Calcite CaCO3 Material strukturnya sebagian besar dari invertebrata laut dan merupakan komponen utama dari limestone. Mengkristal dalm sistem trigonal.
Aragonite CaCO3 Material strukturnya dari moluska laut; terkadang terendapkan dalam air dangkal yang hangat. Mengkristal dalam sistem orthorhombic. Dibandingkan dengan kalsit, kestabilannya lebih rendah dan lebih mudah larut; seringkali merngkristal menjadi kalsit.
Dolomite CaMg(CO3)2 Diketahui sebagai mineral sedimen primer, tetapi lazimnya hasil dari invasi sedimen kalsit oleh air asin yang kaya dengan magnesium yang menyebabkan rekristalisasi dimana dolomite menggantikan kalsit.
Chalchedony SiO2 Material struktur mengadung silika dari sedikit invertebrata laut, khususnya Radiolaria. Keberadaan di batugamping biasanya sebagai flint dan nodul chert.

Kalsit diendapkan oleh suatu organisme yang secara umum memiliki kadar magnesium yang kecil terbatasi didalam kisi-kisi kristal. Kalsit yang mengandung besi dan mangaan pada umumny adalah berasal dari diagenetik dan much less common.

Apabila kita melakukan penelusuran dalam gua, kita tidak asing lagi dengn bentukan khas dan mempunyai daya tarik tersendiri karena bentuknya yang bermacam-macam dan unik. Biasanya adanya rekahan-rekahan yang terbuka menyebabkan air mudah meresap ke dalam lapisan batugamping, kemudian muncul pada langit-langit, dinding, serta lantai gua membentuk ornamen gua (speleothem) yang paling terkenal adalah stalactite dan stalagmite.

LITIFIKASI
Proses litifikasi adalah perubahan dari sedimen yang lentur menjadi batuan, pada kasus ini adalah batugamping yang normalnya dari kalsium karbonat terendapkan dalam ruang pori. Dan terbawa ke tempat terjadinya sementasi oleh pelarutan baik oleh air connate, yaitu air laut yang terjebak di sedimen awal, dan air tanah yang ada diwaktu belakangan.
Sementasi kalsium karbonat dapat diendapkan oleh salah satu dari tiga bentuk ini: coarsely crystalline spar, elongate fibres, atau sebagai micrite yang terbutirkan yang baik.

DIAGENESIS
Diagenesis memiliki arti yang lebih luas daripada litifikasi, juga termasuk perubahannya yang mengambil tempat dalam batuan yang menerima perpindahan magnesium dan silika, dll.

POROSITAS DAN PERMEABILITAS
Porositas didefinisikan sebagai total volume dari ruang udara antar partikel dalam massa; biasanya dinyatakan dalam prosen. Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk meluluskan air melalui batuan tersebut, biasanya dinyatakan dalam darcy (1 darcy adalah 1 cc cairan dengan kecepatan 1 centipoise melalui 1 cm2 luas bidang, sejauh 1 cm dalam 1 detik dengan perbedaan tekanan 1 atm antar unjungnya).

Permeabilitas primer adalah melalui pori dai batuan,sedangkan permeabilitas sekunder melalui kekar, sesar, atai gua hasil pelarutan (solution cavity).
Porositas dan permeabilitas di daerah batugamping sangat besar pengaruhnya terhadap pada proses bentukan gua. Untuk itu perlu sekali dipahami.

LAPISAN (BED) DAN BIDANG LAPISAN (BEDDING PLANE)
Bentuk dan keteabalan bed adalah faktor-faktor dalam speleogenesis.
Lapisan tipis dengan ketebalan tidak lebih dari 25-50 cm, mengadakan banyak bidang perlapisan, sedikit konsentrasi aliran, sehingga pengembangan gua menjadi terhalangi.
Lapisan yang tebal memiliki bidang lapisan lebih sedikit sehingga jumlah alirannya terbatas, dan bisa menyebabkan perkembangan gua dengan ukuran lebih panjang.

Gambar stratigrafi minor
STYLOLITE

Banyak bedding plane pada batugamping yang menampakkan ciri-ciri pelarutan tekanan yang dikenal sebagai stylolite. Jika sebuah material yang tidak dapat terlarutkan tersebar sepanjang bedding plane, pengaruh dari berat lapisan yang lebih muda adalah menekan lapisan bersama-sama. Dibawah tekanan yang demikian itu kalsium karbonat yang kontak dengan butiran kwarsa dapat terlarutkan, dan pelarutan yang semacam itu secara istimewa diatas puncak butiran dan dibawah satu sama lain. Hasil jaringan adalah sebuah serupa dengan bentuk tiga dimensional zig-zag. Dilihat dalam se uah muka joint , terlihat seperti jejak dari pen recorder, sehingga disebut stylolite.

Ukuran stylolite bermacam, sepanjang permukaan bed.
Lapisan dibawah lapis stylolite, ketika terkupas, terkadang disebut “pot-holed surface”.

STRUKTUR
Saat terlitifikasi, massa batugamping mengalami tekanan dan regangan dari apa yang disebut gaya tektonik, didalam Bumi. Tekanan dapat menyebabkan mengalami kemiringan atau lipatan, sehingga menyebabkan llapisan batugamping terinklinasi dan bagian lemah dari perlekatan terinklinasi kearah yang sama. Tekanan juga menyebabkan terjadinya retakan pada batugamping, menyebabkan terjadinya kekar dan sesar.

Di banyak kejadian, seharusnya surveyor gua dapat mem-plot disposisi dari kekar, sesar, dan dip dari kemiringan lapisan sesuai dengan kemajuan survey. Hal ini akan sangat membantu interpretasi dari asal muasal gua di kemudian hari dan dapat menghilangkan beberapa rangkaian survai geologi yang diperlukan bahaya kesalahan lokasi.
KEKAR (JOINT)

Kekar dan sesar, keduanya adalah fracture (retakan), namun kekar tidak ada displacement, sedangkan sesar, definisinya adalah bidang displacement. Keduanya dihasilkan oleh kompresi, tensi, dan torsi, dengan berbagai kemungkinan arah.
Ada beberapa jenis kekar (joint):

  • conjugate joint, adalah joint yang hanya melalui satu bed saja, atau paling banyak hanya dua atau tiga lapisan.
  • master joint, adalah joint yang melalui bed yang lebih tebal daripada joint yang lain.
  • oblique joint

Conjugate joint yang melalui beberapa bed sehingga menjadi tempat yang cocok untuk awal dari tapak jejak speleogenetik yang mengatur arah vertikal, dan berkembang menjadi “pot” atau “pitch”. Perkembangan sepanjang joint tunggal biasanya disebut “rift”. Joint ini memungkin adanya perkembangan gua.

Batu gamping yang terlipat memiliki normal joint yang kemudian menjadi bedding yang mana berkembang basik saat bed dalam posisi horisontal, sehingga sampai dirotasikan dengan lapisan tertutup, atau mungkin memiliki oblique joint yang ter impose oleh tegangan berikutnya ke lipatan.

LIPATAN
Lipatan di batugamping, dan lapisan yang berdekatan, dapat menghasilkan sebuah struktur yang sangat beragam; lipatan dapat berupa arch yang mulus atau sebuha pembalikan lapisan yang sempit, dapat simetris maupun asimetris; dapat isoclinal, dengan dua cabang yang memiliki dip sama; atau tergulingkan, dengan satu cabang memiliki lapisan yang merupakan kebalikannya. Ukurannya dapat beberapa feet dan dapat pla luasnya berkilometer dan ribuan meter. Inklinasi dari lapisan batugaping dapat memberikan sumbangan distribusi beberapa joint dan sesar serta berbagai bentuk zona lemah batuan lainnya.

SESAR
Sesar ada tiga jenis; normal, wrench atau tear, dan reverse atau thrust.
Sesar adalah fracture yang mengalami dislokasi. Hal ini juga memungkinkan awal terjadinya spelegenesis sepanjang sesar. Salah satu pengaruh utama dari sesar adalah displacement lapisan yang memiliki karakter speleogenesis, berjauhan satu sama lain. Selain itu sesar dapat menghasilkan bed yang berbeda, bersamaan dengan karakter speleogenetik yang sama, posisi yang berlawanan; gua hasilnya dapat ditandai dengan perubahan ukuran detail potongan dan ciri-cirinya ditempat lintasan sesar.

Pergerakan sesar seringkali berkesudahan dalam sebuah fragmen batuan yang ter-crush atau ter-grind membentuk sebuah zona atau sebuah pita breksi daripada sebuah bidang sesar clean-cut. Breksi semacam itu biasanya merupakan sementasi dari kalsit, tetapi cukup permeable sehingga menjadi faktor yang cukup penting dalam perkembangan gua.
Berbagai macam hipotesis tentang asal muasal gua telah dibuat yang mana titik awalnya adalah sebuah masa homogen batugamping yang kemudian terangkat dari muka air laut. Dengan asumsi bahwa batugamping adalah homogen, maka variabel sedimen gamping dan tekstur diagenesis menjadi diabaikan. Padahal tringkah laku dari; ukuran butir dan pori, permeabilitas yang berbeda; sifat dasar bedding plane, stylolite, kekar, sesar, lapisan mineral, karst yang terkubur, semuanya memiliki arti yang sangat penting dalam mengontrol tempat, waktu, dan tingkatan speleogenesis. Tidak ada sistem gua yang dapat dipahami secara penuh jika faktor-faktor tersebut tidak dianalisa.

Pada teori awal, mulanya semua pathway dari speleogenetik adalah dalam zona phreatic. Faktor geologi yang kemudian mengontrol pathway berkembang menjadi gua. Studi yang mutakhir menunjukkan, bahwa pathway dapat berkembang menjadi gua sistem vadose, dan juga, gua ada juga yang berkembang langsung ketika pada zona vadose.

Sebuah pitch (sumuran) di dalam gua yang terbentuk akibat pelebaran kekar.
Perhatikan bidang perlapisan horisontal, dan perhatikan struktur yang menyamping melewati beberapa bidang perlapisan (di foto melintasi tiga buah).
(Foto: Bagus Yulianto)

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstografi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Proses-proses Yang Mempengaruhi Terjadinya Gua

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Gua : adalah setiap ruangan bawah tanah alam di bebatuan yang cukup dimasuki  manusia. (Union Internationale de Speleologie).
Gua : lubang alam yang ada di bumi. (William B. White, 1988)

Beberapa referensi yang mengulas proses-proses terjadinya gua, diantaranya adalah:

Geomorphology and Hydrology of Karst Terrains (William B. White, 1988)
Karakteristik bentuk lahan di kawasan karst adalah:
– bentukan negatip yang tertutup, dengan berbagai ukuran dan susunan
– drainase permukaan yang terputus
– gua-gua dan sistem aliran bawah permukaan
Tingkat perkembangan bentuk lahan kawasan karst, secara umum berbeda satu kawasan dengan yang lainnya. Mulut gua terbentuk secara kebetulan.
Sebagian terbentuk berhubungan dengan sumber air atau tempat keluarnya air yang juga membentuk gua. Misalnya mulut gua yang berupa swallow hole atau mulut mata air.
Sebagian mulut gua terbentuk dengan downcutting dari lembah permukaan yang memotong lorong gua.
Sebagian lain terbentuk dengan proses yang komplek: upward stopping of cave passage, sinkhole collapse, atau perpotongan vertical shaft dengan lorong gua.

Swallow hole : pengertian ini dipergunakan untuk menandai tempat dimana aliran air menghilang menuju bawah tanah
Vertical shaft : pada bentuk ideal, merupakan silinder dengan dinding vertikal merombak perlapisan melawan inklinasi perlapisan.
Collapse : runtuhan

Karst Geomorphology and Hydrology (D.C Ford & P.W. Williams,1989)
The Science Of Speleology (G.T Warwick. Geomorphology and cave)

Dome pit (page 100):
Disebabkan oleh solution yang menuju keatas, di back up oleh air lipasan banjir pada chamber, terbentuk sepanjang joint utama. (Renault, 1952 a dan b).
(Maucci, 1952, 1958) menyebutnya erosi terbalik (inverse erosion).

Karst Landform (Marjorie M. Sweeting, 1972)
Faktor-faktor yang mempengaruhi bentukan lorong gua (133):
– Bentuk kapilaritas primer
– Karakter petrologi dan kimia batugamping
– Struktur batugamping, seperti dip, joint, dan fault, dll
– Tipe dan banyaknya aliran air yang melewati lorong (phreatic atau vadose)
– Fisiografi kawasan regional
– Pengaruh perkembangan gua sebelumnya, yakni sejarah gua
– Iklim dan variasi iklim masa-masa sebelumnya
– Pengaruh deposit gua.

Cave collapse and breakdown:
– Block breakdown : Tipe runtuhan biasanya pendek dimensi untuk horisontal, cenderung vertikal, bertingkat, arah terrentang naik kearah tension dome. Runtuhnya atap atau dinding gua secara besar-besaran, ditandai dengan hasil runtuhan berbentuk blok yang persegi.
– Slab breakdown : Tipe runtuhan yang berada pada jarak horisontal yang panjang tetapi tingkat vertikal yang terbatas. Disebabkan oleh runtuhnya lapisan tunggal pada atap. Ketebalan irisan tidak beraturan tersebar sepanjang lorong gua.
– Plate breakdown : disebabkan oleh solution atau hilangnya tekanan plat tipis batugamping.
– Chip breakdown : pada kasus ini hanya satu fragmen kecil yang runtuh , satu bagian yang flat dan berbentuk serpihan pecahan.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari interpretasi peta topografi, foto udara:
– pola aliran yang terputus, baik aliran periodik maupun aliran semua musim. Bentuk : Swallow hole (hilangnya aliran sungai / air), resurgence (tempat munculnya kembali aliran air ke permukaan, bisa sungai, bisa spring (sumber air /mataair). Ciri morfologi permukaan: dari peta topografi atau foto udara terlihat aliran sungai yang terputus. Untuk swallow hole, aliran air masuk menghilang kebawah permukaan tanah melewati mulut gua. Untuk resurgence dan spring, aliran air muncul dari bawah tanah melewati mulut gua.
– scarp, escarpment. Bentuk : resurgence, spring, fosile, Ciri morfologi permukaan : adanya tebing akibat sesar.
– pothole, shaft, domepit. Dapat diidentifikasi di lapangan, foto udara. Bentuk : lobang sumuran, celah vertikal. Ciri morfologi permukaan : tidak tentu.
– closed depression (uvala, cockpit, doline/ sinkhole). Bentuk: lembah-lembah karst yang tertutup
– vegetasi lebih lebat atau dengan jenis tumbuhan yang berbeda dengan vegetasi endemis disekitarnya.
– kelelawar, burung sriti, burung walet yang menuju atau dari satu titik daerah tertentu.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari peta geologi:
– Litologi pada jenis batu gamping klastik nan klastik
– Struktur geologi yang terlihat nyata (sinklin, antiklin)
– Struktur kekar, lapisan, fault regional.

Identifikasi pencirian adanya mulut gua dari informasi orang lain:
– Pendeskripsian mengenai apa yang disebut “gua” kepada orang yang dimintai informasi – Mengerti istilah yang dipakai penduduk sekitar (luweng, song, jumbleng, gua, goa, guha, umbul, leang, goffre, grotte, cave, al kahfi, shaft, dll

(Widjanarko, Sunu.2008.Speleologi dan Karstografi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | Leave a Comment »

Introduksi Speleologi

Posted by Ardy Prasetyo on March 29, 2008

Kata speleology berasal dari bahasa Yunani, yaitu spelaion = gua, dan logos = ilmu.

Begitu banyak definisi dari arti kata speleologi. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

  • Spelology is the science of the cave environment and treats both its physical and biological aspects. (Moore  G.W. 1928)
  • Speleology is the scientific study of caves; it is a science in which all the other scientific disciplines are in some aspects applicable to caves or their contents. (Ford T.D & Cullingford C.H.D 1976)
  • Speleology is the scientific study of caves and other karst features, their make-up, structure, physical properties, history, life forms, and the processes by which they form (speleogenesis) and change over time (speleomorphology). The term speleology is also sometimes applied to the recreational activity of exploring caves, but this is more properly known as caving, spelunking or potholing. Speleology and caving are often connected, as the physical skills required for in situ study are the same. (Wikipedia)
  • Speleology is the study of caves and their contents. The exploration, description and study of caves and related phenomena. (http://home.mira.net/~gnb/caving/glossary/S.html )
  • Speleology is the scientific study or exploration of caves (http://www.merriam-webster.com/dictionary/speleological )

 

Speleologi, seperti umumnya ilmu pengetahuan lain, dimulai dari amatir yang dengan sepenuh hati melakukan pengamatan terhadap hal-hal yang menarik hati mereka, kemudian membuat rekaman-rekaman. Lalu, akhirnya dengan berjalannya waktu menjadi sebuah ilmu tersendiri. Saat ini, speleologi berkembang sebagai akibat dari persinggungan mutualisme antara amatir dan ilmuwan profesional yang memiliki ketertarikan dan kepedulian yang sama terhadap gua.

Spelologi, sebagian besar terdiri dari cabang-cabang riset dan ilmu dasar dari geologi dan biologi, yaitu kimia, meteorology, dan ilmu tanah. Karena keterlibatan satu sama lain dari cabang ilmu yang berlainan tersebut, maka sekarang ini setiap cabang ilmu yang melakukan penelitian terhadap subyek tertentu di dalam gua, seyogyanya dilakukan dengan ahli ilmu lain yang terkait untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Seorang ahli biologi gua telah menemukan spesies di salah gua di karst Jawa Barat. Spesies yang sama tersebut ditemukan lagi di karst Jawa Timur. Sementara spesies tersebut tidak ditemukan di karst kabupaten Gunung Kidul. Bagaimana mungkin? Kawasan karst tersebut dipisahkan oleh berbagai struktur geologi yang lain. Seorang ahli geologi mungkin bisa menerangkan hal tersebut.

Bagaimana cara ahli arkeologi menerjemahkan hubungan masa lalu antara penghuni gua yang satu dengan yang lain berdasar temuan-temuan hasil penggalian? Para ahli Sistem Informasi Geografi dapat membantu usaha itu.

 (Widjanarko, Sunu.2007.Speleologi dan Karstografi.http://subterra.web.id)

Posted in All About Caving, Introduksi Speleologi | 1 Comment »